NEWS
12 April 2016

Indonesia Agresif Pacu Industri MRO Terintegrasi

Indonesia Agresif Pacu Industri MRO TerintegrasiIndonesia Agresif Pacu Industri MRO Terintegrasi

--- Menteri Perindustrian Saleh Husin terima asosiasi perawatan pesawat/ Maintenance, Repair and Overhaul (MRO), Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA).
--- Bintan Investment bangun kawasan industri perawatan pesawat terintegrasi di Pulau Bintan, Kepri.

JAKARTA. Industri perawatan pesawat dunia diprediksi terus tumbuh seiring kebutuhan transportasi dan mobilitas antar wilayah serta dunia. Dalam 20 tahun ke depan, pusat  industri perawatan pesawat diprediksi akan berpusat di kawasan Asia Pasifik.

Peluang ini harus dimanfaatkan oleh perusahaan perawatan pesawat atau yang dikenal sebagai Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) Indonesia. Untuk itu, Indonesia terus memacu penyediaan fasilitas yang diimbangi sumber daya manusia yang mumpuni.

Menteri Perindustrian Saleh Husin menegaskan hal itu saat menerima Asosiasi Jasa Perawatan Pesawat Indonesia atau  Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA), di Jakarta, Selasa malam (12/4/2106).

“Banyak alasan kita harus mendorong industri ini. Jasa penerbangan domestik dan internasional terus tumbuh, jumlah penumpang naik dan otomatis jumlah pesawat bertambah sehingga ini menjadi peluang industri MRO kita,” katanya.

Lebih lanjut, Menperin menuturkan, Indonesia juga merupakan salah satu sumbu lalu lintas udara di Asia dan dunia, berdampingan dengan Singapura dan negara lain seperti Malaysia serta Australia.

Sepanjang  tahun 2014, merujuk catatan Kemenperin, jasa penerbangan dengan rute nasional mengalami peningkatan  sebesar  18 persen   dibandingkan pada tahun 2013, kemudian pada rute internasional mengalami kenaikan sebesar 32 persen. Sedangkan untuk angkutan barang nasional mengalami kenaikan sebesar  91 persen dan 71 persen untuk rute internasional.

Diperkirakan, pada saat ini terdapat  63 maskapai penerbangan nasional, dengan populasi 657 pesawat, yang didominasi oleh pesawat jenis Boeing 737 Series sebanyak 231 buah. Selain itu masih terdapat 182 buah pesawat lainnya yang dimiliki oleh sekolah penerbangan dan perusahaan perkebunan dan pertambangan.

“Selama ini hanya 30 persen pesawat yang beroperasi di sini dirawat di Indonesia, sisanya melakukan perawatan di MRO luar negeri. Istilahnya, kita mesti tarik pulang yang 70 persen ini ke bengkel pesawat kita sendiri. Kita bidik sebagian besar pesawat dirawat dan di-overhaul di sini,” ujar Saleh.

Senada dengan optimisme Menperin, Ketua Dewan Pimpinan IAMSA Richard Budihardianto mengatakan perusahaan MRO di luar negeri terus meningkatkan kapasitas dan penyediaan fasilitas. Dia menghitung, peluang bisnis MRO didapat dari anggaran pemiliharaan setiap maskapai yang sedikitnya USD 1 miliar atau sekitar Rp 13,2 triliun per tahun.

“Dengan kenaikan jumlah penumpang rata-rata 15 persen per tahun dan bahkan lebih maka industri MRO nasional harus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas. Jika kita tidak bangun sendiri, asing yang akan ambil peluang,” katanya.


Pihaknya juga turut berupaya mendongkrak kapasitas SDM industri perawatan pesawat melalui penambahan politeknik dirgantara. IAMSA mencatat, Indonsia kekurangan teksnisi penerbangan karena sekolah-sekolah teknisi penerbangan di Indonesia hanya menghasilkan 200 tenaga ahli per tahun, jauh dari kebutuhan yang mencapai 1000 orang setiap tahun.

Seiring bisnis penerbangan yang tumbuh, IAMSA memperkirakan Indonesia akan membutuhkan 12-15 ribu tenaga ahli hingga 15 tahun ke depan. “Pendirian politeknik, termasuk mengubah politeknik umum menjadi fokus ke teknik dirgantara menjadi upaya menyiasati pemenuhan kebutuhan ini. Jadi kita sedang kebut-kebutan dan kita optimis anak-anak kita mampu mengisi peluang kerja ini,” ulasnya.


INDUSTRI MRO TERINTEGRASI
Di Indonesia, saat ini dikembangkan kawasan industri MRO terintegrasi di Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. PT Bintan Aviation Investment membangun proyek Bintan Airport & Aerospace Industry Park dengan luas lahan kawasan bandara 800 hektare dan kawasan industri 510 ha.

“Bandara mengakomodasi bisnis penerbangan umum, fasilitas MRO dan pusat logistik. Panjang landasan mencapai sekitar 3.000 meter dan bisa didarati pesawat berbadan lebar sehingga memungkinkan maskapai nasioanl dan internasional yang akan melakukan pemeliharaan,” kata Direktur Utama Bintan Aviation Investment, Frans Gunara pada kesempatan yang sama.

Saat ini, selain membangun landasan, pihaknya tengah melakukan pembangunan fase pertama yaitu terminal penumpang dan kawasan industri. Ke depan, pelabuhan laut (offshore marine center), pembangkit listrik, kawasan bisnis komersial dan pemukiman bakal dibangun.

Dermaga digunakan untuk pengangkutan produk dari dan ke kawasan industri serta menjadi dermaga ferry yang terkoneksi dengan terminal ferry Tanah Merah Singapura. Khusus penyediaan energi, saat ini telah dibangun pembangkit listrik bertenaga batu bara 21 MW dan rencananya akan ditambah pembangkit 2x15 MW.

Bintan Investment melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking bandara Bintan atau pada 2012 dan tahun 2015 lalu dibangun runway, taxiway, apron, fasilitas MRO dan terminal. Targetnya, bandara Bintan dibuka pada kuartal kedua 2018.

“Kita juga akan memdirikan politeknik khusus MRO untuk mendukung penyediaan dan peningkatan kapasitas SDM kita. Terdapat tiga pelatihan yaitu Aircraft Maintenance Basic Training, Aircraft Maintenance Type Training dan Spesific Training,” kata Managing Director Michael Bintan Investment Wudy.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan bisnis MRO merupakan industri strategis karena berteknologi tinggi dan mempekerjakan tenaga kerja berkompetensi tinggi.

“MRO merupakan industris berkarakteristik khusus karena capital intensive sekaligus labor intensive. Perbaikan pesawat tidak bisa diotomatisasi sehingga jumlah SDM harus tersedia dengan kemampuan unggul, salah satunya melalui pembangunan politeknik yang fokus ke industri dirgantara,” ulasnya.

Terkait kawasan industri MRO terintegrasi seperti di Bintan, Putu mengatakan industri pemeliharaan pesawat berpotensi menjadi klaster penghela di kawasan  terkait. Ke depan, industri perawatan dapat menumbuhkan industri komponen pesawat dan selanjutnya memacu industri pesawat baru.

Kawasan industri di Bintan, lanjut dia, diharapkan mampu mendorong dibangunnya fasilitas MRO serupa di beberapa lokasi di kawasan Indonesia lainnya. Ini seiring terus meningkatnya penerbangan nasional mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang membutuhkan transportasi udara untuk lalu lintas penumpang, barang, termasuk obat-obatan yang mesti didistribusikan dengan cepat. ###